Pentingnya Hydrotest Dalam Menjaga Kualitas Performa APAR

25 Jul 2019

Pentingnya Hydrotest Dalam Menjaga Kualitas Performa APAR


Entah itu di pusat perbelanjaan, perkantoran atau pun di kawasan lainnya, keberadaan Fire Extinguisher atau yang biasa dikenal dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) mudah ditemui, berada dimana-mana. Bejana bertekanan berwarna merah ini berperan sebagai langkah pencegahan saat kebakaran terjadi, mencegah meluasnya area yang terbakar.


Meski pada prinsipnya APAR adalah bagian dari komponen pendukung keselamatan akan tetapi juga bisa jadi bom waktu bagi orang-orang di sekitar apabila unit-unit APAR yang tersedia tidak perhatikan masa kedaluwarsanya oleh pihak pengelola gedung atau bangunan.


Ada banyak potensi dan risiko dari kelalaian tersebut. Pertama, potensi terjadinya penyumbatan pada output APAR, umumnya dialami oleh media APAR berjenis dry chemical powder yang disebabkan oleh terjadinya penggumpalan pada media APAR. Penggumpalan ini bisa memicu malfungsi pada APAR saat dibutuhkan untuk memadamkan api.
Risiko kedua, penyumbatan tersebut juga bisa memicu ledakan pada APAR, pasalnya proses kerja APAR saat memadamkan api membutuhkan tekanan tinggi. Apabila tekanan tinggi ini terhambat, potensi meledak bisa terjadi kapanpun tak terduga.


Bahaya lainnya, APAR yang kedaluwarsa juga bisa memicu risiko kebocoran. Bayangkan, jika itu terjadi tentunya isi kandungan dari bejana bertekanan ini akan meracuni kualitas udara sekitarnya. Mengancam keselamtan jiwa bagi orang-orang yang menghirupnya. Yang lebih mengerikan lagi jika kebocoran terjadi saat APAR ingin digunakan, maka potensi meledak ketika digunakan sangat memungkinkan. Lalu apa solusinya?
Pengecekan melalui hydrotest adalah jalan keluar.

Sales Manager PT Indolok Bakti Utama, Wahyu menjelaskan, hydrotest merupakan metode yang bisa menakar kelayakan silinder atau bejana bertekanan secara akurat. Sejalan dengan itu, pemerintah melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: PER 01/MEN/1982 tentang bejana bertekanan, telah mewajibkan untuk dilakukan pengetesan secara berkala terhadap bejana bertekanan, minimal sebanyak satu kali dalam lima tahun.
Ironisnya, hydrotest pada APAR tergolong jarang dilakukan lantaran pada umumnya beberapa kalangan masih minim wawasan tentang ini. Menurut Wahyu hal tersebut biasa terjadi di lingkungan perusahaan yang tidak memiliki divisi keselamatn kerja di dalam jenjang hierarki organisasinya.


Adapun yang memicu kondisi tersebut, tentunya masalah investasi. Maksudnya, penganggaran biaya pengecekan seperti ini dinilai beberapa kalangan sebagai sebuah pembiayaan yang tidak produktif. Padahal, urusan keselamatan jiwa tidak bisa disandingkan dengan urusan nominam maupun untung-rugi.


Di sisi lain, proses pengecekan atau pengujian hydrotest ini terbilang tidak menyita banyak waktu, jadi sudah tidak ada lagi alasan untuk menghindari pengujian ini. Meskipun durasi riilnya bergantung pada jumlah unit APAR yang akan diuji, estimasinya satu hingga dua minggu. Dengan catatan tidak ada permintaan surat lulus pengujian yang dibubuhi stempel Dinas Tenaga Kerja, pasalnya jika demikian durasi bisa bertambah hingga satu sampai dua bulan.


Berkenaan dengan urusan prosedur pengujian, Wahyu menuturkan, proses pengecekan hydrotest dilakukan dengan cara mengeluarkan seluruh isi APAR. Langkah berikutnya adalah pengecakan fisik bejana atau tabung, untuk memastikan tidak ada indikasi korosif yang menyebabkan kebocoran.


Apabila tidak ada kebocoran maka dilakukan langkah selanjutnya, yakni, memasukan air ke dalam tabung., lalu diberi tekanan 1,5 kali lipat dari tekanan yang dimiliki APAR untuk mengujinya. Misalkan APAR yang sedang diuji memiliki bertekanan sampai 25 bar maka saat pengecekan para penguji APAR akan menstimuluskan tekanan di kisaran 35 sampai 40 bar.


Meski begitu, Wahyu menekankan bahwa angka tersebut di atas tidak bersifat general, semuanya kembali lagi mengacu pada media dan masa pengecekannya masing-masing. Untuk APAR yang berjenis gas basah (CO2) minimal sekali dalam lima tahun, sedangkan berjanis kering minimal sekali dalam 12 tahun.
Pun Wahyu juga turut mengingatkan, pengecekan melalui metode ini membutuhkan keahlian dan peralatan khusus. Karenannya sangat disarankan untuk menyerahkan urusan pengecekan ini kepada pihak atau perusahaan yang berkompeten dengan di dukung para teknisi professional. PT. Indolok Bakti Utama, salah satunya.


Sekadar catatan saat ini perusahaan yang bermarkas pusat di bilangan Salemba, Jakarta ini memang sudah melayani permintaan hydrotest dan pelaksanaanya dilakukan di pabrik tempat pembuatan produk APAR. Akan tetapi, kedepannya PT. Indolok Bakti Utama berencana akan menyediakan tempat pengujian di kawasan gedung kantor pusat, dalam rangka berkontribusi mengkampanyekan tentang perlunya hydrotest kepada para mitra dan masyarakat luas.